logo

SMK Kartanegara Kediri

Jl. Ir. Sutami no.27 Kediri

[email protected]

(0354) 689132

logo

123 456 789

[email protected]

Goldsmith Hall

New York, NY 90210

07:30 - 19:00

Monday to Friday

The child has one intuitive aim: self development

Bertaruh Nyawa untuk Pergi Kesekolah

Bantul: Sejumlah siswa SD di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, harus menyeberangi sungai Oya yang berarus deras menggunakan ban dan bak bekas agar bisa bersekolah. menyeberang menggunakan ban dan bak bekas itu terpaksa dilakukan, lantaran jembatan gantung yang menghubungkan Desa Selopamioro dan Sariharjo itu rusak dan hilang saat banjir akibat siklon tropis cempaka pada November 2017 lalu.

saban hari harus menyeberangi sungai selebar 30 meter agar bisa bersekolah di SD Kedungmiri, Desa Sariharjo, Kecamatan Imogiri. Saat menyeberang sungai, ketiga bocah SD itu dibantu ayah Fiki, Sumadi, 35.

Keputusan untuk melintasi sungai Oya demi bisa bersekolah meski didampingi orang dewasa, tak mudah. Alasannya, karena jarak. Sumadi mengaku, terpaksa memilih melintasi sungai karena jarak dari rumah ke sekolah berjarak tiga kilometer bila melintasi sungai. Selepas menyeberang, ketiga bocah SD itu masih harus mengayuh sepeda selama 30 menit untuk sampai ke sekolah. Sementara, kata Sumadi, bila harus memutar lewat jalur lain, jaraknya 10 kilometer.

“Sudah sekitar dua bulan saya menyeberangkan anak lewat sungai Oya buat sekolah. Ya kadang giliran sama tetangga yang anaknya tak seberang kan,” kata Sumadi di dekat sungai Oya pada Sabtu, 10 Februari 2018.

Ia mengungkap, jembatan gantung yang biasanya digunakan warga Desa Selopamioro dan Sariharjo hanyut saat banjir besar pada November 2017. Warga, katanya, juga sempat membuat rakit secara swadaya untuk bisa menyeberangi sungai agar anak-anak bisa sekolah.

Namun, lokasi pembuatan rakit dirasa cukup jauh. Dengan kondisi itu, Sumadi dan sejumlah orang tua memutuskan memakai ban bekas sebagai sarana menyeberangi sungai Oya.

Sumadi juga mengaku sempat berfikir untuk memindahkan anaknya ke sekolah yang lebih dekat. Sayang, Fiki menolak tawaran ayahnya.

“Ya akhirnya orang tua mengalah, harus jaga anak pas nyeberangi sungai (Oya) ini,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah segera membuatkan jembatan untuk mempermudah akses kedua warga desa. Selain itu, Sumadi menambahkan, orang tua tak ingin anaknya harus menempuh perjalanan berisiko untuk berangkat ke sekolah.

Fiki mengaku tak takut meski menyeberangi sungai Oya. Meski berisiko, ia cukup tenang dengan ditemani orang dewasa saat menyeberangi sungai Oya.

“Sudah biasa lewat sini (menyeberang sungai Oya). Sama bapak juga. Kalau lewat jalan lain jauh,” katanya.

Sumber : https://softwaresekolah.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *